Banda Aceh, 29 Oktober 2026 – Departemen Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala (USK) menyelenggarakan International Seminar on Sustainable and Harmonious Architecture, Planning, & Environment (I-SHAPE) 2026 dengan tema “The Resilient Low-Carbon Nexus: Synchronizing Urban Planning, Architecture, Policy Innovation, and Governance Capacity.” Seminar internasional ini dilaksanakan secara hybrid di Auditorium Pusjar SKMK LAN, Banda Aceh, dengan dukungan utama dari Pusjar SKMK LAN Aceh.
Acara dibuka secara resmi oleh Asisten Administrasi Umum Kota Banda Aceh, M. Nurdin, S.Sos., M.Si., setelah sebelumnya diawali sambutan Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Dr. Heru Fahlevi, S.E., M.Sc., Ak., CA, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pengambil kebijakan dalam menjawab tantangan pembangunan perkotaan yang semakin kompleks. Semangat kolaborasi tersebut juga digaungkan oleh Ketua Panitia I-SHAPE 2026, Putra Rizkiya, S.T., M.Sc., yang menyebut forum ini sebagai ruang pertukaran gagasan sekaligus wadah untuk memperkuat jejaring lintas institusi.

Dari Tata Kelola hingga Ketangguhan Perkotaan
Dalam keynote speech, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, Ketua Lembaga Administrasi Negara (LAN RI), menempatkan sinkronisasi sebagai kunci untuk menghubungkan perencanaan perkotaan, arsitektur, inovasi kebijakan, dan kapasitas tata kelola. Berangkat dari pengalaman Aceh menghadapi bencana, ia menekankan bahwa ketangguhan tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh kapasitas institusi, kepemimpinan, koordinasi, serta partisipasi masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi penting dalam menjembatani pengetahuan, kebijakan, dan implementasi.

Perspektif tersebut diperkaya oleh empat pembicara dalam diskusi panel yang dimoderatori oleh Dr. Asrul Sidiq dari Prodi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota, USK. Prof. Orlando Woods dari Singapore Management University membahas “Smart and Data-Driven Urban Resilience? Lessons from Singapore, Jakarta, and Bangkok,” yang menyoroti peran teknologi, data, serta kapasitas manusia dan kelembagaan dalam membangun ketangguhan perkotaan.

Prof. Azila Ahmad Sarkawi dari International Islamic University Malaysia, melalui “Advancing Decarbonisation in the Built Environment through an Islamic Worldview”, memperluas diskusi dekarbonisasi dengan perspektif Islam dalam melihat hubungan antara manusia, lingkungan, dan pembangunan lingkungan binaan.
Dari USK, Prof. Dr. Laina Hilma Sari dari USK mengangkat konservasi hijau melalui rumah tradisional Aceh dan Gunongan, dengan menunjukkan keterkaitan antara konservasi dan pemeliharaan bangunan dengan pembangunan rendah karbon. Sementara itu, Prof. Naomi Uchida dari Saitama University, Jepang, membahas pemulihan pascabencana di Noto, khususnya pentingnya mempertahankan rumah, keterikatan terhadap tempat, dan keberlanjutan komunitas.
Mendukung Pencapaian SDGs
Rangkaian pembahasan I-SHAPE 2026 menunjukkan bahwa agenda dekarbonisasi memerlukan pendekatan lintas disiplin yang menghubungkan arsitektur, perencanaan, teknologi, budaya, komunitas, kebijakan, dan tata kelola. Agenda ini sejalan terutama dengan SDG 11: Sustainable Cities and Communities dan SDG 13: Climate Action, serta turut mendukung SDG 4: Quality Education, SDG 12: Responsible Consumption and Production, dan SDG 17: Partnerships for the Goals.
Kegiatan ini diikuti sekitar 400 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi, profesional, pemerintah, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan lainnya. Selain dukungan utama dari Pusjar SKMK LAN Aceh, penyelenggaraan I-SHAPE 2026 juga terlaksana berkat dukungan Pemerintah Kota Banda Aceh, Bank Syariah Nasional (BSN), Bank Syariah Indonesia (BSI), PT Pembangunan Aceh (Perseroda), Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP) Provinsi Aceh, Daisyblooms Wedding Planner & Decoration, serta Urban Sustainability and Policy Institute (USPI).
Melalui I-SHAPE 2026, Departemen Arsitektur dan Perencanaan FT USK berupaya mempertemukan pengetahuan akademik, praktik profesional, dan kebijakan publik serta memperluas jejaring lintas institusi untuk mendorong masa depan perkotaan yang lebih tangguh, inklusif, berkelanjutan, dan rendah karbon.

