
Lambaro Neujid, Aceh Besar — Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak gempa bumi dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah Indonesia dan meninggalkan pelajaran penting mengenai besarnya risiko bencana yang dihadapi masyarakat Aceh, khususnya masyarakat yang berada di wilayah pesisir. Lebih dari 20 tahun setelah peristiwa tersebut, menjaga ingatan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menjadi langkah penting dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Sebagai bagian dari upaya tersebut pada hari Minggu tanggal 30 Agustus 2026, Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala (HMTG USK) melalui program Geologi Peduli Sosial (GPS) 2026 menyelenggarakan kegiatan sosialisasi kebencanaan: Mitigasi Bencana Tsunami Daerah Pesisir di Desa Lambaro Neujid, Kec. Peukan Bada, Kab. Aceh Besar tsunami. Kegiatan ini mengangkat semangat memperingati lebih dari 20 tahun tsunami Aceh sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana tsunami.
Dalam kegiatan ini, HMTG USK menghadirkan pemateri dari Program Studi Teknik Geologi USK dan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK yaitu Bapak Puncak Joyontono, S.Si., M.Eng dan Bapak Ibnu Rusydy, S.Si., M.SC. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman kebencanaan yang lebih komprehensif kepada masyarakat, mulai dari aspek geologi yang berkaitan dengan tsunami hingga upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Penyampaian materi dari Program Studi Teknik Geologi USK berfokus pada pemahaman mengenai proses geologi yang dapat memicu terjadinya tsunami. Masyarakat diperkenalkan pada hubungan antara aktivitas tektonik, gempa bumi bawah laut, dan terbentuknya gelombang tsunami. Pemahaman mengenai proses tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali bahwa ancaman tsunami merupakan bagian dari risiko kebencanaan yang perlu dipahami dan diantisipasi.
Sementara itu, pemateri dari TDMRC USK memberikan pemahaman mengenai aspek kerawanan, kerentanan, mitigasi, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko bencana. Materi diarahkan pada langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat sebelum, saat, dan setelah terjadi tsunami. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali lingkungan sekitar, jalur evakuasi, titik kumpul, serta lokasi yang relatif aman dari ancaman tsunami.
Salah satu pesan utama dalam kegiatan ini adalah pentingnya mengenali tanda-tanda alam tsunami. Ketika terjadi gempa bumi yang kuat dan berlangsung cukup lama di wilayah pesisir, masyarakat perlu segera meningkatkan kewaspadaan dan melakukan evakuasi menuju tempat yang aman. Selain itu, perubahan muka air laut secara tiba-tiba maupun suara gemuruh dari arah laut juga dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai.
Dalam situasi darurat, kecepatan dalam mengambil keputusan menjadi hal yang sangat penting. Masyarakat diimbau untuk tidak menunggu terlalu lama setelah merasakan gempa kuat dan tidak kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang. Evakuasi harus menjadi prioritas dengan mengikuti jalur yang telah ditentukan atau menuju lokasi yang lebih tinggi dan aman.
Kegiatan sosialisasi tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memiliki kesiapsiagaan secara mandiri. Setiap keluarga diharapkan dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi gempa dan potensi tsunami, menentukan titik temu keluarga, serta saling membantu terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Melalui program Geologi Peduli Sosial (GPS), HMTG USK berupaya menjadikan ilmu geologi tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa Teknik Geologi dalam meningkatkan literasi kebencanaan serta membangun kesadaran masyarakat terhadap kondisi geologi dan potensi bencana di sekitarnya.
Peringatan lebih dari 20 tahun tsunami Aceh menjadi momentum untuk tidak hanya mengenang korban dan dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut, tetapi juga merefleksikan berbagai pembelajaran yang dapat diterapkan hingga saat ini. Pengalaman tsunami Aceh menunjukkan bahwa pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kemampuan melakukan evakuasi secara cepat merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko korban jiwa.
Kolaborasi antara HMTG USK melalui GPS, Program Studi Teknik Geologi USK, dan TDMRC USK dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara lingkungan akademik dan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh dari penelitian dan pendidikan kebencanaan dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan terlaksananya kegiatan sosialisasi ini, masyarakat Desa Lambaro Neujid diharapkan semakin memahami potensi ancaman tsunami serta memiliki kesiapan untuk merespons bencana secara tepat. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana.“Pengetahuan dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang tangguh dan mampu menghadapi ancaman tsunami.”
